Sabtu, 28 April 2012



Kromatografi
1.      Pelarut yang telah dibuat, dimasukkan ke dalam bejana (Chamber). Setelah itu tutup bejana hingga larutan menjadi jenuh. Pelarut dijenuhkan agar proses elusi berjalan dengan baik. Penjenuhan pelarut juga dimaksudkan untuk memperkecil penguapan pelarut dan akan menghasilkan bercak (noda) yang lebih baik.

2.      Agar spot tidak ikut terlarut dalam eluat


3.      Pemisahan dengan KLT preparatif lebih akurat daripada kromatografi kolom, karena diperoleh nilai Rf yang dapat dibandingkan dengan Rf pada literatur. Pengukuran nilai Rf berlangsung sebagai berikut:
Rf = jarak yang ditempuh oleh komponen
        jarak yang ditempuh oleh pelarut
Menurut data pada literatur, Rf kurkumin berada diantara 0,2-0,4, tergantung fasa gerak dan diam yang digunakannya. Bila dibandingkan dengan hasil uji KLT preparatif, nilai Rf kurkumin berada diantara rentang tersebut yaitu 0,25. Dapat dikatakan bahwa kurkumin berhasil diisolasi, walaupun kemurniannya tidak 100%. Kurkumin berada pada lapisan warna paling bawah dalam KLT preparatif. Hal ini berarti kurkumin merupakan senyawa yang paling polar diantara senyawa kurkuminoid lainnya karena lebih tertahan pada silica gel (fase diam) yang bersifat polar. Senyawa yang kepolarannya setelah kurkumin adalah demetoksikurkumin dan senyawa yang paling non-polar diantara ketiganya adalah bis-demetoksikurkumin.
4.       
5.      Masalah yang dijumpai ketika praktikum adalah:
-          Kesalahan dalam menggunakan pipa corong, pada saat memisahkan lapisan bawah dari ekstrak daun berklorofil
-          Lapisan atas dari ekstrak daun yang dicampur dengan eluat dan PE yang kemudian deberi akuades, yang ikut mengalir ke bawah ke bagian yang tidak digunakan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda. Semoga bermanfaat. Terima kasihsudah membaca